Kamis, 24 Agustus 2017

Orang Religius dan Nonreligius di Facebook


Apakah Anda lebih cenderung memasang kalimat kebahagiaan atau hal yang berhubungan tentang keluarga di media sosial Anda? Ataukah Anda justru sering menggunakan kata-kata emosional dan bersifat kognitif, seperti mengumpat dan mengungkapkan pemikiran terhadap suatu hal?

Kata-kata yang Anda gunakan mungkin merupakan petunjuk kekuatan keagamaan Anda. Sebuah penelitian terhadap 12.815 penggunaFacebook di Amerika Serikat dan Inggris mengungkapkan bahwa penggunaan emosi positif dan kata-kata sosial yang mereka gunakan dikaitkan dengan afiliasi keagamaan. Sedangkan, penggunaan emosi negatif dan proses kognitif lebih sering terjadi pada mereka yang nonreligius daripada mereka yang religius.

Penelitian tersebut mereplikasi hasil akhir Ritter dan kawan-kawan pada penggunaan bahasa orang religius dan nonreligius di Twitter, yang muncul dalam jurnal Social Psychological and Personality Science. Periset dari Amerika Serikat, Inggris, dan Australia memiliki peran dibalik penelitian ini.

"Seperti yang ditemukan Ritter dan rekan-rekannya pada tahun 2013, kami juga menemukan bahwa emosi positif dan kata-kata sosial dikaitkan dengan orang religius, sedangkan emosi negatif dan proses kognitif lebih dikaitkan dengan orang yang nonreligius," ujar David Yaden dari University of Pennsylvania, yang memimpin penulis penelitian.

Dan mereka menemukan beberapa wawasan tambahan; "Individu nonreligius sering membahas fisik dan menuliskan tentang kematian daripada orang-orang religius,” tambah Yaden.

Para peneliti mengumpulkan data dari aplikasi MyPersonality, yang salah satunya meminta pengguna Facebook untuk melaporkan afiliasi keagamaan mereka, dan meminta mereka untuk mengizinkan peneliti menganalisis status tertulis mereka di media sosial dan laporan informasi mengenai diri mereka (Kosinski, Stillwell, Graepel, 2013).

Mereka menjalankan dua analisis, untuk melihat kata-kata masing-masing kelompok (religius versus nonreligius). Tim melakukan analisis "top-down" dan "bottom-up".

Pendekatan “top-down”, Linguistic Enquiry dan Word Count (LIWC), menggunakan pengelompokan yang dipilih oleh peneliti, dan berguna dalam memahami data dari segi teori.

Pendekatan "bottom-up," atau Differential Language Analysis (DLA) memungkinkan sebuah algoritma untuk mengelompokkan kata-kata dan dapat memberikan "pandangan transparan" yang mendalam ke dalam bahasa.
Hasil penelitian mengungkapkan, orang-orang religius menggunakan lebih banyak kata-kata religius, seperti "iblis," "berkat," dan "berdoa" daripada orang-orang nonreligius. Mereka juga menunjukkan penggunaan kata-kata positif yang lebih tinggi, seperti "cinta”, serta kata-kata keluarga dan sosial, seperti "ibu" dan "kita".

Di sisi lain, individu nonreligius menggunakan kata-kata yang cenderung mengungkapkan kemarahan, seperti "benci”. Mereka juga menunjukkan penggunaan kata-kata yang berhubungan dengan emosi negatif dan proses kognitif dengan frekuensi tinggi, seperti "akal sehat”.

Kata-kata lain yang sering digunakan oleh orang-orang nonreligius adalah kata-kata umpatan, mengungkit-ungkit fisik, seperti “kepala” dan “leher”, serta kata-kata yang berhubungan dengan kematian, seperti “mati”.

Peran Agama

Sementara sekularisme meningkat di barat, para penulis penelitian mencatat bahwa lebih dari 80% populasi dunia mengidentifikasi beberapa jenis agama, yang nampaknya kini menjadi sebuah tren di masyarakat.

"Agama dikaitkan dengan kesejahteraan dan kehidupan yang lebih lama, tetapi hal itu juga dapat dikaitkan dengan tingkat obesitas dan rasisme yang lebih tinggi,” tutur para peneliti. Bagi mereka, memahami penggunaan bahasa adalah bagian dari gambaran yang lebih besar tentang pemahaman bagaimana afiliasi keagamaan berkaitan dengan kehidupan selanjutnya.

Yaden dan rekan-rekannya tidak mengetahui apakah perilaku linguistik yang berbeda antara orang-orang religius dan nonreligius mencerminkan keadaan psikologis orang-orang dalam kelompok tersebut.

Di samping itu, mereka juga tidak mengetahui apakah penggunaan bahasa itu mencerminkan norma sosial sebagai bagian dari kelompok tersebut, atau beberapa kombinasi di antara kedua pertanyaan besar itu. Mereka berharap, penelitian lebih lanjut akan menawarkan lebih banyak wawasan.

Awalnya, Yaden dan rekan-rekannya berharap untuk membandingkan berbagai afiliasi keagamaan satu sama lain, yaitu bagaimana umat Budha berbeda dari orang Hindu, orang Kristen dari Muslim, dan Ateis dari Agnostik. Namun, mereka tidak memiliki cukup data spesifik untuk melakukan analisis ini. "Kami berharap bisa melakukannya begitu ada data yang lebih besar tersedia untuk kami," ucap Yaden.

" KISAH SUMPIT PANJANG "

Ada sebuah cerita China kuno tentang seorang pria yang akan segera meninggal.

Dia ingin sekali tahu seperti apa Neraka dan Surga itu.

Lantas dia mengunjungi seorang tua bijak di desanya dan memohon petunjuk tentang seperti apa NERAKA dan SURGA.

Orang bijak itu mengajaknya ke sebuah rumah makan unik yang ada di desanya

Dimana di rumah makan itu menyediakan semua masakan lezat dengan gratis dengan syarat hanya boleh makan dimeja khusus dengan peralatan khusus.

Meja khusus itu adalah meja yang berukuran besar, dengan segala makanan enak terhidang diatasnya dan sepasang sumpit dengan ukuran sepanjang hampir 1 meter untuk mengambil makanan yang berada ditengah meja makan besar itu.

Pria itu melihat beberapa orang yang lapar (rakus karena makanan itu gratis) mencoba mengambil makanan sebanyak-banyaknya, namun mereka kesulitan saat akan menyuapkan ke mulutnya masing-masing menggunakan sumpit panjang itu.

Karena emosi, setiap orang yang berada dimeja itu mengeluarkan sumpah serapah dan makian sehingga ramai lah ruang makan itu dengan segala macam hujatan, bahkan tak jarang mereka ada yang berkelahi satu dengan yang lain.

Kata pria, "Aku sudah mengerti seperti apa neraka itu, sekarang tunjukan kepadaku seperti apa itu surga"

Lalu orang bijak itu mengajaknya ke ruang yang lain, dengan kondisi yang sama dengan yang sebelumnya, meja besar dan tentu sumpit sepanjang hampir 1 meter.

Namun, begitu masuk pria itu melihat semua orang yang sedang duduk makan terlihat bahagia, tertawa dan bercanda, tidak terdengar sedikitpun makian dan sumpah serapah seperti diruang sebelumnya.

Pria itu bertanya "Mengapa disini semua orang bahagia, padahal mereka mendapatkan kondisi yang sama dengan ruang yang lain?

Mereka bisa makan dengan tenang dan kenyang tidak seperti ruangan yang sebelumnya"

Lalu, pria itu melihat mereka yang duduk dimeja besar itu saling menyuapkan makanan dari yang satu kepada yang lain dengan sumpit yang panjang itu,

Saling memberi makan satu dengan yang lain, tidak terlihat sedikitpun rebutan makanan yang dihidangkan.


Orang bijak itu lalu menjawab begini:

"Jika kamu ingin merasakan surga di bumi, berusahalah membantu mereka yang kekurangan dan mereka yang membutuhkan,

karena SURGA sedemikian sederhana,

SYARATNYA HANYA  YAITU BERBAGI dan MELAYANI

Ya, SURGA itu sangat sederhana, mau berbagi dan melayani satu dengan yang lain

Dan jika kamu ingin juuga merasakan NERAKA di bumi, sering-seringlah EGOIS dan tidak mau berbagi,

fokuslah kepada kesenangan dan kepentingan sendiri, sehingga frustasi, amarah dan kebutaan mata hati akan menguasai dirimu"

Indah nya HIDUP SALING BERBAGI

Jumat, 02 Desember 2016

Saya dan AHOK


Waktu akan menulis artikel ini, saya memaksa fikiran saya jauh terbang ke masa dimana saya mengenal sosok yang sangat fenomenal, sosok yang dibicarakan orang di seluruh pelosok negeri, di warkop di media dan dimana saja, sungguh saya tak menyangka sosok ini saya kenal dari awal berpolitik dulu dari kampung halamannya Belitung Timur.

Dia adalah BASUKI TJAHAJA PURNAMA atau nama kerennya AHOK... hahahaha...ya, orang yang saya kenal 12 Tahun yang lalu, saat ini selalu di gunjingkan orang, ditakuti lawan politik, disegani bawahannya dan tidak kenal kompromi dengan ketidakberesan dan itulah Ahok yang saya kenal dulu, 12 tahun yang lalu sampai saat ini, tidak berubah Idealismenya.

Tahun 2004 saya bergabung dengan Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PPIB) yang Ketua Umumnya DR. SJAHRIR, saya salah satu pengurus DPD Partai PIB Propinsi Papua, walau saya bukan pengurus initi di DPD, namun ada jabatan yang diberikan DPP PPIB bahwa saya kader Pusat Partai dengan garis komando langsung Ketua Umum, inilah cikal bakal saya  mengenal AHOK.

Sebagai Kader Partai yang garis komandonya langsung Ketua Umum Partai, otomatis saya sering diminta datang ke DPP Jakarta, waktu itu kantor DPPnya PPIB di jalan Teuku Cik Ditiro, disanalah kami sering bertemu, ketika berkumpul seluruh Indonesia, termasuk dengan AHOK dan Isyak Meyrobie yang saat ini sebagai Wakil Ketua DPRD Kab. Beltung Timur dari Fraksi Nasdem.

AHOK yang saya kenal memang idealismenya sangat tinggi hingga saat ini, jadi tidak heran kalau sahabat saya ini memdapat berbagai penghargaan, termasuk yang menyangku anti Korupsi. Banyak yang dia lalui sebelum menjadi sangat terkenal saat ini.

Ahok bergabung dengan Partai Perhimpunan Indonesia Baru (Partai PIB) dan diamanahkan sebagai ketua DPC PIB Kabupaten Belitung. Ahok terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Belitung saat pemilu tahun 2004. Satu tahun setelah itu, Ahok menjabat sebagai Bupati Belitung Timur setelah mendapatkan 37% lebih suara rakyat. Pada masa pemerintahannya, Ahok membebaskan biaya kesehatan seluruh warga tanpa kecuali. Hanya saja, pada tanggal 22 Desember 2006, Ahok mengundurkan diri dan menyerahkan jabatannya kepada Khairul Effendi yang merupakan wakilnya pada saat itu.

Ahok kemudian mencalonkan diri menjadi Gubernur Bangka Belitung pada tahun 2007 dan pada saat itu dia mendapatkan dukungan dari Abdurrahman Wahid (Mantan Presiden RI Ke-4). Sayangnya Ahok kalah dengan Eko Maulana Ali. Tahun itu juga, Ahok mendapatkan penghargaan sebagai Tokoh Anti Korupsi. Pada tahun 2008, Ahok kemudian meluncurkan sebuah buku yang berjudul "Merubah Indonesia". Ahok merupakan ayah dari Nicholas, Natania, dan Daud Albeenner, dan istrinya yang bernama Veronica.

Dalam menjalankan kinerja sebagai wakil gubernur DKI Jakarta, Ahok menuankan rencananya untuk membenahi sistem pemerintahan. Sikapnya yang dikenal keras membatunya dalam memimpin DKI Jakarta saat Jokowi mengambil cuti untuk keperluan kampanye pada Pilpres 2014. Meski menjadi orang nomor dua di ibukota dia tetap selalu tampil sederhana. Ahok tidak pernah ambil pusing untuk memikirkan pakaian dan sepatu yang dipakainya. Dengan terpilihnya Jokowi menjadi Presiden RI Ke-7 maka secara tidak langsung posisi No.1 ibukota di isi oleh Ahok dan menghabiskan masa periodenya. Tepat pada tanggal 19 November 2014, Ahok secara resmi dilantik oleh Presiden Jokowi sebagai Gubernur Jakarta di Istana Merdeka RI.

Saat ini Ahok dalam proses mencalonkan kembali sebagai petahana gubernur DKI untuk periode 2017-2022 pada Februari 2017 untuk yang kedua kalinya dengan Djarot, namun banyak rintangan dan dan trik pesaing-pesaing dengan berbagai cara, padahal semenjak tongkat estafet kepemimpinan DKI Jakarta dari Jokowi, Ahok bergerak cepat membenahi Jakarta dan terbukti, Jakart kini lebih tertata rapi dan berhasil.

Pesan saya, kepada AHOK yang saya kenal dulu, tetaplah idealismemu seperti yang kukenal, engkau selalu peduli dan perhatian kepada suatu hal yang tidak beres.

Semoga engkau tabah melalui ujian semua ini.... Sahabatku....SALAM....


Kritik Vs MAKAR


Kadang saya geli dan lucu, melihat komentar-komentar teman-teman media sosial tentang peristiwa penangkapan dugaan makar atau disebut makar212, hehehehehe.... begitu hebohnya notifikasi twitter saya nggak putus mengirim relay, sampe saya bingung membacanya....ada yang setuju, ada protesm ada yang adu argumen, seru ..pokoknya.

Peristiwa Penangkapan 10 Aktivis pagi buta, menjelang aksi damai 2 Desember 2016, yang populer dengan sebutan aksi 212 itu sontak bikin heboh dunia nyata dan dunia maya.

Berita ini seakan menenggelamkan berita euforia para peserta aksi demo damai 2012 itu sendiri, ada apa gerangan ? semua media pemberitaan menyiarkan secara LIVE tentang berita penangkapan ini, Tak kalah hebohnya netizenpun membuat trending topic tentang ini dengan hastag #makarditangkap, luar biasa.

Kesepuluh orang yang ditangkap terduga makar ini, macam-macam latarnya, ada artis, politikus, mantan jenderal, putri proklamator, hingga yang ikutan posting-posting di media sosial semua diciduk.

Ada seorang sahabat yang meminta pendapat saya tentang peristiwa penangkapan ini, saya bilang tentu petugas Kepolisian tidak semudah itu melakukan penangkapan, ada prosedur yang telah dilalui, ada penyelidikan atau pemantauan sejak demo sebelumnya, dan mungkin saja aksi-sksi selanjutnya akan disusupi atau ditunggangi oleh pihak tertentu untuk kepentingannya atau kelompoknya, komentar saya.

teman lainya langsung menyambar, dengan Esmosinya, lo itukan hanya menyampaikan kritik, kritik kan boleh dan dijamin undang-undang, ini akan menjadi bunerang nantinya bagi kepolisian kalau salah!, dengan ketusnya.

Saya terdiam sejenak, mencari posisi, sambil menghela nafas untuk menjawab pertanyaan ini.

Saya coba menjawab, dengan mengutip apa yang diucapan Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar di kompas, sabtu 3 desember, bahwa bedakab antara kritik dan makar.

"Pandangan kritis yang disampaikan lewat kritik itu lumrah, tapi tetap rambu hukum harus dipegang. Kalau makar dengan permufakatan jahat, ini adalah barang yang berbeda dengan kritik,"

Masyarakat perlu mengingat bahwa ujaran kebencian, penistaan, kata-kata bohong dan penghasutan tidak boleh digunakan dalam penyampaian kritik. Penyampaian aspirasi baik melalui verbal maupun non-verbal, seperti dalam transaksi elektronik harus sesuai dengan tatanan hukum dan aturan yang berlaku.

Menurut Pak Boy, demokrasi memang sesuatu yang baik bagi kehidupan bernegara. Namun, pelaksana demokrasi harus sadar bahwa kebebasan tidak bisa bersifat absolut. Setiap warga negara diatur oleh hukum sehingga tidak diperkenankan melakukan perbuatan yang inkonstitusional.

"Jadi, kami ini bukannya terlalu reaktif. Kami hanya bermain pada tatanan hukum, dan kami lakukan pada tindakan nyata," kata Boy.

Tujuh tersangka yang ditangkap karena dugaan permufakatan makar, berencana menggelar sidang istimewa untuk menggulingkan pemerintahan yang sah.

Penentuan tindak pidana makar dalam bentuk permufakatan tidak perlu menunggu apa yang direncanakan terjadi. Misalnya, penyidik tidak perlu menunggu terjadi pemberontakan untuk menangkap para tersangka.

Dalam kasus ini, penyidik Polri menemukan bahwa ketujuh tersangka berupaya memanfaatkan ruang kebebasan untuk melahirkan ide atau gagasan berbau hasutan yang bisa disalahartikan, yang dapat menggulirkan reaksi dan pendapat orang lain.

Ketujuh orang yang ditetapkan sebagai tersangka permufakatan makar adalah Rachmawati Soekarnoputri, Kivlan Zein, Ratna Sarumpaet, Adityawarman, Eko, Alvin dan Firza Huzein. 

Mereka disangka melanggar Pasal 107 jo Pasal 110 jo Pasal 87 KUHP. Semua tersangka diduga berencana untuk memanfaatkan massa yang mengikuti doa  bersama untuk menggulingkan pemerintahan yang sah.

"Situasinya multikompleks. Tidak bisa kami katakan ini murni ibadah. Polisi selalu berpikir ada kecurigaan," kata Boy.

Nah, begitu teman, katanya mas boy, eh, kok saya jadi emon catatan si boy, ini pasti gara-gara Pak Boy, Kepala Divisi Humas Polri.

maaf..lo Pak Boy...hehehehe